Halaman

Jumat, 01 Maret 2013

PESONA KOTA TIGA SATU DI TEPI SUNGAI MENTAYA

Tragedi kemanusiaan seakan tak pernah pudar,ketika kota Sampit disebut.Ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur,Provinsi Kalimantan Tengah ini sempat dilanda kerusuhan etnis yang melibatkan suku Madura dengan masyarakat pribumi,Dayak pada tahun 2001.

Sejarah kelam itu yang kabarnya menewaskan ratusan orang,dan ribuan orang terpaksa harus mengungsi,coba dilupakan dengan berbagai pembenahan kota yang dipimpin sang bupati muda,Supian Hadi.

Ya,sejarah sempat mencatat kota Sampit merupakan bandar terpenting di daerah yang sempat berdiri sebuah pemerintahan yang bernama Kerajaan Kotawaringin itu.
Dalam buku kuno seperti Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 dan Hikayat Banjar yang dirilis pada tahun 1663,nama Sampit merupakan kota tertua ditanah Borneo.
Letaknya yang sangat strategis ditepi Sungai Mentaya serta beberapa bagian yang menjurus ke Laut Jawa membuatnya memainkan peran dari percaturan perdagangan tempo dulu hingga kini.
Sampit menjadi sangat penting karena posisinya yang menjadi akses penghubung daerah lain seperti Kuala Pembuang (Kabupaten Seruyan),Kasongan (Kabupaten Katingan) hingga ibukota Provinsi Kalimantan Tengah,Palangkaraya.
Jadilah Sampit dengan pelabuhan yang kompetitif,menjadi pesaing alami bagi Banjarmasin yang dikenal juga bandar tempo dulu.

Legenda rakyat yang berkembang hingga kini menyebutkan Sampit merupakan sebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Sungai Sampit.
Kerajaan ini diperintah oleh dua putera yakni Lumuh Sampit (laki-laki) dan sang perempuan bernama Lumuh Lenggana.
Namun,Kerajaan ini akhirnya pudar,ketika terjadi perebutan kekuasaanantara kedua saudara kandung tersebut.

Banyak yang mempercayai lokasi Kerajaan Sungai Sampit ini berada di kawasan desa Bagendang Hilir,tepatnya di areal sekitar milik PT.INDO Balambit.
Sebagai bukti beberapa artefak seperti tiang bendera kapal bekas kerajaan barbahan kayu ulin besar masih ada dan terkubur lumpur di bawah Dermaga PT.INDO Balambit tersebut.
Asumsi itu juga dikuatkan dengan penemuan pecahan keramik ketika dilakukan penggalian alur parit
Hipotesis ini coba dikaitkan adanya kontak dagang Kerajaan Sampit dengan luar,terutama dengan Tiongkok,India hingga Portogis.

TARI MANASAI - Aset budaya yang masih dilestarikan Pemkab Kotim
Diperkirakan Kerajaan Sungai Sampit ini berdiri di era kekuasaan DinastiMing di Tiongkok (abad ke-13).
Hal ini dicermati dengan akses perdagangan dari penguasa Tiongkok itu,hingga keruntuhanya yang digantikan dinasti lainya,yang menjadikan Sampit menjadi tujuan dearah perdagangan.
Masih dalam catatan Masdipura,diceritakan bahwa Puteri Junjung Buih,istri Pangeran Suryanata pernah berkunjung ke Kerajaan Sungai Sampit.Seperti diketahui,Pangeran Suryanata dari penguasa Kerajaan Negara Daha (Amuntai) yang berkuasa antara 1400-1435 merupakan Pangeran dari Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Wirakarrama Wardhana sekitar 1389-1435.

Bila dilelisik lebih jauh Kerajaan Sungai Sampit ini usianya lebih tua dari Negara Dipa (abad ke-14),sehingga di buku Negarakertagama,Kesultanan Banjar (1526) tidak tertulis karena merupakan dinasti penerus dari Kerajaan Negara Dipa,Kerajaan Hindu yang terletak ditepi Dungai Tabalong.
Terbukti pula,kala Putri Junjung Buih hendak dikawinkan dengan Pangeran Suryanata,40 Kerajaan besar dan kecil pada waktu itu bermufakat untuk menyerang Negara Dipa.Namun mereka dapat ditaklukan dan sejak itulah kerajaan kerajaan itu menjadi vajal Kerajaan Banjar.
Bukti-bukti ini dapat ditelusiri pada Traktat Karang Intan dimana Sampit sebagai salah satu wilayah yang diserahkan kepada VOC.

Kota Sampit juga pernah disebut-sebut dalam buku kuno Negarakertagama.pada masa itu disebutkan,terutama pada masa ke emasan Kerajaan Majapahit,yang diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya yang tersohor yaitu Gajah Mada.Disalah satu bagian buku yang ditulis Mpu Prapanca pada 1365 itu disebutkan,bahwa pernah dilakukan ekspedisi perjalanan Nusantara dimana salah satu tempat yang mereka singgahi adalah Sampit dan Kuala Pembuang.

Banyak versi yang coba menelusuri historis kota Sampit seperti mengartikan secara Tekstual dalam Bahasa Dayak Ot Danum,Sungai Mentaya yang menjadi sumber penghidupan Kota Sampit disebut batang danum kupang bulan (Masdipura,2003).
Hingga kini,penelusuran asal kata Sampit terus didalami,termasuk mengaitkan dengan angka dalam Bahasa Tionghua (Mandarin),yakni Tiga dan Satu.
Tiga dalam dialek Tionghua adalah "Sam" sedangkan satu disebut "it".

Adapula yang menyebutkan sang pembuka pertama adalah kawasan Sampit adalah yang bernama Sampit.Ia dikabarkan berasal dari Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut,Kalimantan Selatan,sekitar tahun 1700-an.
Sebagai bukti,situs makam Datu Sampit ini di tunjukan di kawasan Basirih.
Sang Datu itu dikabarkan mempunyai dua orang putera yakni Datu Jungkir dan Datu Usup Lamak.
Makam Keramat Datu Djungkir Bin Sampit
Makam keramat Datu Jungkir ini ditemukan dibibir Sungai Mentaya di Baamang Tengah,dengan nisan bertulis Djungkir Bin Sampit.
Sedangkan Datu Usup Lamak berlokasi di Basirih.

Bruynzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau (2)

Adnan, Mekanik Handal ‘Lulusan’ Brengsel
Terampil tangan keriputnya melilit kabel dinamo ke kumparan mesin. Layaknya mekanik profesional, mobil yang semula ngadat mengerang perlahan. Gumpalan asap hitam keluar dari knalpot belakang. Berhasil, mobil yang semula anfal hidup kembali di tangan Adnan, pemilik bengkel spesialis mesin yang tak pernah mengenyam pendidikan formal permesinan.

RUSNANI ANWAR, Sampit

Ditemui pada Sabtu (27/2) sore di kediamannya, Koran Ini disambut ramah oleh Adnan. Bertempat tinggal di jalan Gatot Subroto sejak lahir, membuat Adnan paham betul tentang masa lampau kota Sampit. Usianya menjelang 80, kelahiran tahun 1933. Beliau adalah salah satu dari 2000 lebih pekerja NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) dulu. Kilang penggergajian milik Belanda yang dinoktahkan sebagai wadah pengolahan kayu tercanggih se Indonesia itu berdiri di tahun 1948.

Pada tahun 1957, Adnan menjadi bagian dari kilang tersebut sebagai buruh mesin. Mesin-mesin bubut yang jumlahnya puluhan itu menderu nyaring setiap waktu. Secara konstan melahap kayu-kayu siap olah. Adnan tidak hanya bertugas mengoperasikan mesin-mesin tersebut, ia juga bertanggungjawab pada kerusakan-kerusakan di tiap unit mesin.

Alah bisa karena biasa, mungkin pepatah inilah yang tepat untuk Adnan. Ditempa brengsel selama belasan tahun membuatnya paham betul tentang seluk beluk mesin, tanpa harus mengenyam pendidikan resmi. “Dahulu itu sempat disekolahkan oleh pimpinan Bruynzeel, hitungan bulan ja,” ujar Adnan. Ia bahkan tak bisa baca tulis, namun fasih mulutnya meluncurkan kalimat-kalimat berbahasa Belanda yang didapatnya semasa bekerja di kilang penggergajian.

*Adnan*
Putih rambut dan keriput kulit Adnan di usia 77 tahun rupanya tidak mengurangi kemampuannya dalam mengingat keadaan Sampit puluhan tahun silam. Dulu, menurut Adnan, ratusan rumah bermodel sama membentang dari Taman Kota hingga Pesawahan ujung. Berderet rata, rumah itu dihuni oleh kaum Belanda yang semuanya merupakan pekerja Bruynzeel.

Sebagai fasiltas pelengkap, lapangan bola, lapangan tenis, area bola sodok (bilyard), hingga kompleks hiburan didirikan berdekatan dengan area kilang penggergajian kayu. Taman Kota dulunya adalah lapangan sepakbola, masih lekat di ingatan Adnan deretan kursi penonton yang berbahan dasar kayu, mengilap warnanya berlapis vernis ditimpa sinar matahari.

Tahun 1950-an, jejeran penjual helm di kawasan kontainer pelabuhan Sampit merupakan gudang garam. Ribuan ton garam ditampung dalam gudang tersebut. Kilang penggergajian itu bagai jantung tempat dimana seluruh aktivitas kehidupan warga Sampit berdenyut. Di samping lapangan sepakbola. Berdiri megah sebuah kompleks hiburan, isinya beragam, rumah-rumah makan, bar-bar tempat para Belanda menghabiskan waktu liburnya, hingga area permainan khas negri kincir angin.

Musik-musik barat kerap dimainkan band-band di area hiburan tersebut. Alunan jazz, ballad dan blues mengalun bergantian setiap malam. Perlahan setelah berpindahnya tampuk kepemimpinan Belanda atas kilang penggergajian membuat kejayaan bangsa Holland itu atas bumi Habaring Hurung memudar.

Di tahun 1961 ke atas, lepas berpindahnya kepemimpinan NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven ke tangan PN. Perhutani, kedudukan penguasa dagang tertinggi Sampit bergeser. “Kalau tahun 40-50-an itu Belanda yang menguasai perdagangan, tahun 60-an ke atas itu jadi tahunnya orang China,” ujar Adnan. Meskipun Soeharto telah terpilih sebagai presiden pada tahun 1966 -kita semua tahu bagaimana bentuk perlakuan pemerintah terhadap kaum China pada saat itu-, hal tersebut tidak lantas menyurutkan semangat kaum China untuk berkuasa atas sistem dagang warga pribumi. Warga Belanda yang sudah habis masa kontraknya pulang kembali ke tempat asalnya.

Pada era itu, mayoritas penduduk Sampit adalah warga Banjar dan Madura. Tarian Ronggeng khas Madura ternyata sudah menjadi bagian dari hiburan warga Sampit sejak dulu. Setiap Rabu dan Sabtu malam, pasar malam di kompleks hiburan (kawasan eks gedung Mentaya Theater sekarang) akan diramaikan dengan tabuhan musik khas Madura dan geolan penari Ronggeng.

Jumlah warga China pada saat itu tidaklah seberapa, di bawah tekanan rezim Soeharto mereka banyak mengubah nama menjadi lebih berbau lokal. Budaya ini rupanya terbawa hingga sekarang. Jangan heran jika pada tahun delapan puluhan ada kaum bermata sipit yang mengaku bernama Muhammad. “Mereka punya dua nama, nama Indonesia dan nama China,” ujar Arman, seorang warga asli Sampit yang sejak 74 tahun lalu lahir di kota ini.

Meskipun kuantitasnya kecil, mereka berkuasa atas perdagangan saat itu. Tercatat setidaknya tiga kilang penggergajian kayu besar milik etnis China yang tersebar di Kalimantan sejak tahun 1950. Ketiga kilang penggergajian itu bernama Firma Gani milik Lie Sioe Wing di Tenggarong, milik Ban Hong di Long Iram, dan milik Tan Tjong Tju di Samarinda. Kelak, di tahun 1972 ketika NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven berubah menjadi PT. Inhutani III dan pamornya memudar, kilang-kilang penggergajian kayu milik kaum China inilah yang merajai pasar.

 Tauke-tauke itu tidak hanya menguasai pasar kayu, namun juga aspek perdagangan lain. “Pokoknya orang China itu semuanya pedagang di Sampit,” papar Arman. Mereka terkenal sebagai pedagang ulung. Sengit menentukan harga dan pintar mengendalikan pembeli. Di tahun 1963, ada dua bioskop milik China yang terkenal di kota Sampit. Masing-masing mengusung nama Sentosa dan Shanghai.

Bioskop Sentosa terletak di jalan Sutoyo S, tepat di Kusuka Swalayan saat ini. Sedangkan bioskop Shanghai berada di jalan Jendral A. Yani, bekas gedung pajak yang terbakar. Meski sama-sama dimiliki etnis China, kedua bioskop ini memiliki perbedaan pada film yang diputar. Bioskop Sentosa khusus menayangkan film-film Jakarta, bioskop Shanghai merupakan spesialis film Malaysia.

Baru pada tahun 1980-an, Theater Mentaya dibangun, perlahan keberadaan dua bioskop kecil itu tergantikan dengan rol-rol film yang lebih canggih dan kapasitas gedung yang lebih besar. Mengenang masa lalu dan kemakmuran hidup di waktu itu memang tidak akan ada habisnya. Simpulan kepemimpinan Soeharto yang berbunyi “sejahtera tapi ngutang” sepertinya benar adanya. Meski dijajah secara moril, para orang-orang tua yang hidup di era orde baru tetap mengakui bahwa zaman dulu jauh lebih enak dibanding sekarang.

Adnan menyatakan meski rekan-rekan bekerjanya sudah habis dimakan usia, meskipun tidak ada sejarah tentang Bruynzeel yang tersisa, ia tetap meyakini sejarah yang terbagi melalui lisan tidak akan habis termakan zaman. Ia dan kemahirannya merakit mesin misalnya, merupakan sebuah warisan tidak berwujud yang diserap dengan sendirinya selama bekerja di kilang penggergajian NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. (***)

*Terbit pada Surat Kabar Harian Radar Sampit, April 2010*


Bruynzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau (1)


Lokomotif Beserta Rel Itu diangkut Dari Belanda

Reruntuhan pabrik yang terkenal dengan sebutan brengsel itu masih berdiri berdampingan dengan Taman Kota Sampit hingga sekarang. Berdiri di tahun 1948, NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) merupakan kilang penggergajian kayu termodern di Indonesia. Masyarakat lokal yang tidak terbiasa dengan aksara Belanda melafalkannya dengan sebutan Brengsel. Sebutan itu begitu kental melekat hingga sekarang.

Rusnani Anwar, Sampit

Koran Ini dibawa ke puluhan tahun lampau oleh Muhammad Amberi H.I, warga Baamang yang bersinggungan langsung dengan kilang penggergajian milik NV Bruynnzeel sejak tahun 1951. “Saya, setelah lulus SR (sekolah rakyat), sudah berjualan di kantin Bruynzeel,” ujarnya membuka cerita.

Bapak yang akrab disapa Amberi ini memaparkan tentang kecanggihan kilang penggergajian kayu yang didirikan oleh Belanda itu. Ia dulu adalah anak dari pemilik kantin karyawan NV BDH, ayahnya seorang tentara. Setiap hari Amberi berhadapan dengan kemegahan kilang penggergajian yang memiliki penjagaan ketat itu.

Meskipun Indonesia telah dinyatakan merdeka pada tahun 1945, para penjajah tidak sepenuhnya meninggalkan negara kita. Pada tahun 1948, di tanah Sampit, Belanda mendirikan kilang penggergajian kayu tercanggih se-Indonesia. Kalimantan pada waktu itu terkenal dengan rimbunan kayu dan kekayaan hutannya. Kilang penggergajian tersebut berada di jajaran sungai Mentaya, luas bangunan utama pabrik mencapai 50 × 100 meter.



Bangunan seluas itu berlantai dua, lantai satu berfungsi sebagai tempat pengolahan kayu tahap akhir. Lantai dua difungsikan sebagai tempat pengeringan dan pengolahan kayu tahap satu. Semuanya menggunakan mesin yang langsung didatangkan dari negeri Belanda. “Canggih sekali, jumlah mesinnya puluhan,” ungkap Amberi. Mesin dan teknisinya juga dikirim langsung dari Belanda.

Gelondong-gelondong kayu diangkut dari hutan di kawasan barat Sampit dengan menggunakan kereta api. Sebutannya dulu adalah lokomotif, besi rel yang membentang hingga belasan kilometer itu diangkut dengan menggunakan kapal dari negara Belanda. Hitam legam lokomotif itu menyeruak di sela kompleks perumahan Holland yang terletak tidak jauh dari rel kereta. “Lokomotif itu besar sekali, sekali angkut ribuan gelondong kayu bisa dibawa,” papar lelaki berusia 64 tahun itu.

Kepulan asap mesin turbin penggerak lokomotif membentuk cendawan-cendawan hitam dari cerobong kereta api yang relnya terbentang dari kilang Bruynzeel hingga ke kilometer 7 (Pasir Putih sekarang). Sepanjang jalan yang dilalui lokomotif akan menunggu gelondongan kayu yang telah ditebang dan digelindingkan turun dari hutan. Berbahan bakar batubara, lokomotif berwarna legam sepanjang 50 meter itu menjadi pemandangan khas di sore hari. Hingga saat ini jalan yang dulu merupakan jalur rel lokomotif kilang Bruynzeel disebut sebagai Jalan Rel.

Ribuan gelondong kayu itu lantas dibawa lokomotif ke areal kilang. Di sana, kayu-kayu itu diceburkan ke sungai dengan tujuan untuk membersihkan sekaligus untuk menampung kayu-kayu tersebut sebelum diolah. “Dulu sebutannya Sungai Pemuatan,” ujar Amberi. Lantas, dengan menggunakan mesin hidrolik, gelondong kayu basah itu dinaikkan setinggi delapan meter ke lantai dua bangunan pabrik utama.

*Daerah sisir Sungai Mentaya*
Saat ini, hanya satu cerobong asap yang tersisa di area pabrik tersebut. Itupun sudah doyong dan berkarat, nyaris rubuh. Dulu, ada dua cerobong yang selalu mengepulkan asap putih hasil pembakaran kayu untuk mesin pengering gelondong. “Satu tinggi satu rendah, langit berasap kalau kayu lagi dikeringkan,” kenang Amberi.

Berbagai jenis kayu hasil hutan Kalimantan diolah di kilang Bruynzeel. Kayu jenis Kruing, Meranti, Jati, Bengalan hingga Agatis diolah menjadi bahan bangunan dan kerangka meubel . hasil olahan yang paling terkenal adalah Agatis dan Bengalan, semuanya kualitas ekspor. Kayu-kayu ini lantas dikirim menggunakan kapal Neel Bruynzeel milik Bruynzeel ke Batavia (Jakarta), dari sana, kayu-kayu olahan tersebut di ekspor ke India dan China.

Dulu pada awal berdiri, pabrik Bruynzeel memiliki dua armada kapal pengangkut kayu olahan, bernama Leet Bruynzeel dan Neel Bruynzeel, namun pada tahun 1957, kapal Leet Bruynzeel terbakar lantas karam lantaran terbakar di sekitar sungai Mentaya wilayah Terawan (tidak lama setelah tenggelamnya kapal Leet Bruynzeel, kapal Pelni yang hendak berlabuh turut karam di lokasi yang sama).

Kedua kapal inipun didatangkan langsung dari Belanda, kapasitasnya mencapai ribuan kubik, besar sekali. Setiap kali kapal datang, bunyinya yang lantang mampu didengar hingga radius berkilometer. Pabrik Bruenzeel merupakan bukti nyata kejayaan hutan Sampit. Sejak awal berdiri di tahun 1948 hingga 1961, hutan dan kayu seakan tidak ada habisnya untuk di eksploitasi.

Saat itu Belanda-lah yang memegang kuasa penuh atas industri kayu di Kalimantan. Menggunakan sistem bagi hasil dengan pemerintah. Sebanyak 2000 lebih warga Sampit pada saat itu menggantungkan hidupnya pada kilang penggergajian kayu NV BDH. Terjajahkah kita? Secara harfiah mungkin ya, kita terjajah.

Warga asing merampas kekayaan hutan kita dan menjualnya untuk kekayaan pribadi. Kita mungkin terjajah karena mereka menjadikan kita budak di tanah sendiri. Di ajukan pernyataan seperti ini, Amberi hanya tertawa. Ia menyatakan, jika bisa memilih, dirinya lebih baik bekerja di Bruynzeel daripada menjadi pegawai negeri (pekerjaannya sekarang).

Rupanya, kaum feodal itu memperlakukan pekerjanya dengan sangat baik. Jika dibuat perumpamaan, upah bekerja di pabrik Bruynzeel selama seminggu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama sebulan. Selain itu, setiap bulan pimpinan perusahaan akan membagikan jatah sembako kepada setiap pekerja pabrik. “Sampai tepung juga diberi, mereka baik sekali,” ujar Amberi.

Tidak hanya pangan, seluas satu kilometer tanah yang membentang mulai Taman Kota hingga Gatot Subroto ujung merupakan kepunyaan NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. Tanah dengan luas 1000 × 500 meter itu diprioritaskan untuk perumahan pekerja. Jalan Gatot Subroto hingga daerah Pesawahaan ujung diperuntukkan sebagai Kompleks Perumahan Belanda. Jejeran rumah di kompleks itu sama persis, jumlahnya ratusan buah, khusus untuk pekerja dari Belanda. Sisanya menyebar kaum pribumi menempati areal tanah milik Bruynzeel. Dalam pengadaan tanah ini, Belanda memiliki hak pakai tanah dengan sistem kontrak.

Disiplin. Sebuah kata yang mampu menggambarkan sistem kerja di kilang penggergajian Bruynzeel. Waktu kerja masing-masing divisi adalah 07.00 hingga 16.00 WIB. Pekerja pabrik yang rata-rata tinggal di daerah sekitar pabrik akan diperingatkan dengan sirine setiap menjelang pukul 07.00 pagi. Ada berbagai jenis pekerjaan di kilang tersebut, mulai dari petugas sortir, pengering kayu, penggergaji, mekanik, hingga cleaning service.

Sirine pertama artinya seluruh pekerja harus bersiap-siap, sirine kedua berarti gerbang pabrik akan ditutup. “Ketika pekerja dinyatakan terlambat, ia tidak diperbolehkan masuk bekerja,” terang Amberi. Kedisiplinan yang diterapkan pimpinan Bruynzeel ini berlaku rata, baik kaum pribumi maupun pekerja Belanda.

Sayang, kejayaan kaum Belanda dan Bruynzeel-nya hanya bertahan selama 13 tahun. Pada tahun 1961, tampuk kepemimpinan pabrik berpindah ke tangan pemerintah kota. Hal ini menyusul dikeluarkannya Peraturan Perusahaan Negara (PN) Perhutani oleh pemerintah. Kemudian pada tahun 1972, pemerintah mengeluarkan PP no. 15/1972 tentang perubahan PN. Perhutani Kalimantan menjadi PT. Inhutani I (kaltim), PT. Inhutani II (kalsel) dan PT. Inhutani III (kalteng dan kalbar). Ini merupakan upaya pemerintah dalam meningatkan pendapatan negara melalui sektor perkayuan. Ditambah dengan gempuran politik orde lama yang perlahan lahan “mengusir” kaum Belanda yang menanam modal dari tanah air.

Saat ini tak banyak yang tersisa dari kejayaan kilang penggergajian kayu NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. Areal pabrik yang dulu sempat dinoktahkan sebagai pabrik terbesar dan tercanggih se-Indonesia itu berubah menjadi lahan rimbun semak belukar. Tanaman rambat liar menyesapi sela-sela bangunan yang sebagian runtuh dan tidak terurus.

Cerobong tinggi tempat dimana asap mesin pengering kayu masih berdiri gamang, renta ditelan karat dan hujan selama berpuluh tahun. Saat ini lebatnya hutan Kalimantan hanya tinggal ode pengantar tidur. Kisah tentang kilang penggergajian terbesar dan kejayaannya itu kian memudar, pelaku sejarah yang terlibat langsung dengan pabrik itu perlahan tutup usia seiring fade out-nya lantunan sejarah kota kita. (***)

*Terbit pada Surat Kabar Harian Radar Sampit, April 2010*