Halaman

Jumat, 01 Maret 2013

PESONA KOTA TIGA SATU DI TEPI SUNGAI MENTAYA

Tragedi kemanusiaan seakan tak pernah pudar,ketika kota Sampit disebut.Ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur,Provinsi Kalimantan Tengah ini sempat dilanda kerusuhan etnis yang melibatkan suku Madura dengan masyarakat pribumi,Dayak pada tahun 2001.

Sejarah kelam itu yang kabarnya menewaskan ratusan orang,dan ribuan orang terpaksa harus mengungsi,coba dilupakan dengan berbagai pembenahan kota yang dipimpin sang bupati muda,Supian Hadi.

Ya,sejarah sempat mencatat kota Sampit merupakan bandar terpenting di daerah yang sempat berdiri sebuah pemerintahan yang bernama Kerajaan Kotawaringin itu.
Dalam buku kuno seperti Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 dan Hikayat Banjar yang dirilis pada tahun 1663,nama Sampit merupakan kota tertua ditanah Borneo.
Letaknya yang sangat strategis ditepi Sungai Mentaya serta beberapa bagian yang menjurus ke Laut Jawa membuatnya memainkan peran dari percaturan perdagangan tempo dulu hingga kini.
Sampit menjadi sangat penting karena posisinya yang menjadi akses penghubung daerah lain seperti Kuala Pembuang (Kabupaten Seruyan),Kasongan (Kabupaten Katingan) hingga ibukota Provinsi Kalimantan Tengah,Palangkaraya.
Jadilah Sampit dengan pelabuhan yang kompetitif,menjadi pesaing alami bagi Banjarmasin yang dikenal juga bandar tempo dulu.

Legenda rakyat yang berkembang hingga kini menyebutkan Sampit merupakan sebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Sungai Sampit.
Kerajaan ini diperintah oleh dua putera yakni Lumuh Sampit (laki-laki) dan sang perempuan bernama Lumuh Lenggana.
Namun,Kerajaan ini akhirnya pudar,ketika terjadi perebutan kekuasaanantara kedua saudara kandung tersebut.

Banyak yang mempercayai lokasi Kerajaan Sungai Sampit ini berada di kawasan desa Bagendang Hilir,tepatnya di areal sekitar milik PT.INDO Balambit.
Sebagai bukti beberapa artefak seperti tiang bendera kapal bekas kerajaan barbahan kayu ulin besar masih ada dan terkubur lumpur di bawah Dermaga PT.INDO Balambit tersebut.
Asumsi itu juga dikuatkan dengan penemuan pecahan keramik ketika dilakukan penggalian alur parit
Hipotesis ini coba dikaitkan adanya kontak dagang Kerajaan Sampit dengan luar,terutama dengan Tiongkok,India hingga Portogis.

TARI MANASAI - Aset budaya yang masih dilestarikan Pemkab Kotim
Diperkirakan Kerajaan Sungai Sampit ini berdiri di era kekuasaan DinastiMing di Tiongkok (abad ke-13).
Hal ini dicermati dengan akses perdagangan dari penguasa Tiongkok itu,hingga keruntuhanya yang digantikan dinasti lainya,yang menjadikan Sampit menjadi tujuan dearah perdagangan.
Masih dalam catatan Masdipura,diceritakan bahwa Puteri Junjung Buih,istri Pangeran Suryanata pernah berkunjung ke Kerajaan Sungai Sampit.Seperti diketahui,Pangeran Suryanata dari penguasa Kerajaan Negara Daha (Amuntai) yang berkuasa antara 1400-1435 merupakan Pangeran dari Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Wirakarrama Wardhana sekitar 1389-1435.

Bila dilelisik lebih jauh Kerajaan Sungai Sampit ini usianya lebih tua dari Negara Dipa (abad ke-14),sehingga di buku Negarakertagama,Kesultanan Banjar (1526) tidak tertulis karena merupakan dinasti penerus dari Kerajaan Negara Dipa,Kerajaan Hindu yang terletak ditepi Dungai Tabalong.
Terbukti pula,kala Putri Junjung Buih hendak dikawinkan dengan Pangeran Suryanata,40 Kerajaan besar dan kecil pada waktu itu bermufakat untuk menyerang Negara Dipa.Namun mereka dapat ditaklukan dan sejak itulah kerajaan kerajaan itu menjadi vajal Kerajaan Banjar.
Bukti-bukti ini dapat ditelusiri pada Traktat Karang Intan dimana Sampit sebagai salah satu wilayah yang diserahkan kepada VOC.

Kota Sampit juga pernah disebut-sebut dalam buku kuno Negarakertagama.pada masa itu disebutkan,terutama pada masa ke emasan Kerajaan Majapahit,yang diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya yang tersohor yaitu Gajah Mada.Disalah satu bagian buku yang ditulis Mpu Prapanca pada 1365 itu disebutkan,bahwa pernah dilakukan ekspedisi perjalanan Nusantara dimana salah satu tempat yang mereka singgahi adalah Sampit dan Kuala Pembuang.

Banyak versi yang coba menelusuri historis kota Sampit seperti mengartikan secara Tekstual dalam Bahasa Dayak Ot Danum,Sungai Mentaya yang menjadi sumber penghidupan Kota Sampit disebut batang danum kupang bulan (Masdipura,2003).
Hingga kini,penelusuran asal kata Sampit terus didalami,termasuk mengaitkan dengan angka dalam Bahasa Tionghua (Mandarin),yakni Tiga dan Satu.
Tiga dalam dialek Tionghua adalah "Sam" sedangkan satu disebut "it".

Adapula yang menyebutkan sang pembuka pertama adalah kawasan Sampit adalah yang bernama Sampit.Ia dikabarkan berasal dari Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut,Kalimantan Selatan,sekitar tahun 1700-an.
Sebagai bukti,situs makam Datu Sampit ini di tunjukan di kawasan Basirih.
Sang Datu itu dikabarkan mempunyai dua orang putera yakni Datu Jungkir dan Datu Usup Lamak.
Makam Keramat Datu Djungkir Bin Sampit
Makam keramat Datu Jungkir ini ditemukan dibibir Sungai Mentaya di Baamang Tengah,dengan nisan bertulis Djungkir Bin Sampit.
Sedangkan Datu Usup Lamak berlokasi di Basirih.

2 komentar:

  1. hingga sampai saat ini asal usul kota sampit masih dilakukan penelitian

    BalasHapus
  2. sejarah pemancangan bendera merah putih pertama kali di samuda masih banyak yang belum mengetahui, terutama remaja sekarang. Mohon dituliskan tentang itu sebagai pengetahuan anak-anak Mentaya

    BalasHapus